Kamis, 2009 April 30

modal nekat

Saat chating di facebook, teman lama mengingatkanku tentang masa lalu. Aku jadi kepikiran juga untuk sekadar sharing di blog ini. Kejadian ini terjadi pada 1995-1997. Seperti biasa, pada bulan Juni-September, biasanya aku selalu travelling untuk mengisi liburan panjang kuliah.

Tahun 1995, usai ujian akhir, aku jalan-jalan ke Lombok, tahun 1996 aku jalan-jalan ke Bali, tahun 1997 aku balik lagi ke Bali. Namun, perjalananku ini bukanlah pesiar yang mewah, tapi perjalanan nekat yang penuh risiko. Bisa dibilang nekat karena biayanya yang teramat minim. Maklumlah mahasiswa, anak kost lagi.

Tahun 1995 adalah pertama kali aku ke Bali. Keinginan ke Bali sudah aku idamkan saat masih SMA, tapi baru kesampaian saat kuliah di Jogja. Saat itu, di tangan cuman ada uang Rp 100 ribu. Aku memutar otak bagaimana dengan uang segitu bisa sampai ke Bali. Uang itu aku belikan beberapa bungkus mie instan, satu roll film, dan beberapa makanan ringan lain, dan beberapa kilogram beras.

Akhirnya, uang di tangan tinggal Rp 60 ribu. Semua bekal itu aku masukkan dalam tas ransel bersama dengan peralatan naik gunung, seperti nasting plus parafin dan kompornya. Tak ketinggalan kamera poket murahan dan pisau lipat. Aku memutuskan untuk berangkat sendiri karena tak ada satu temanku yang mau diajak hidup nekat.

Aku memulai perjalanan dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan Jogja. Saat itu ada kereta jurusan Jogja-Banyuwangi dengan harga tiket cuman Rp 7.000, tahun 1996 harga tiketnya menjadi Rp 9.000 dan berubah jadi Rp 15 ribu pada tahun berikutnya. Nama keretanya Sri Tanjung. Berangkat pagi dari Jogja, sampai Banyuwangi pukul 22.00 WIB.

Sampai di Stasiun Banyuwangi jalan kaki ke penyeberangan Ketapang. Kalau tidak salah, saat itu ongkos ferry cuman Rp 1000 per orang. Di penyeberangan ini aku mencoba mencari truk tumpangan sampai Denpasar. Akhirnya ada juga kernet truk yang baik hati memberi tumpangan. Lumayan bisa sampai Denpasar gratis. Pendek kata, saat itu aku bisa berjalan-jalan (bener-bener jalan kaki plus numpang truk) selama seminggu di Bali, dan bisa sampai Jogja lagi dengan selamat.

Hari ketiga bermalam di Pantai Kuta menggunakan tenda dome, aku didatangi beberapa preman. Mereka minta barang-barangku. Tak ingin mati konyol, karena kalah jumlah (dan tak kenal medan) aku pasrah saja saat digeledah. Saat itu, aku hanya bisa berdoa. Seluruh isi tas, dompet dan baju saya digeledah. Sesekali aku mencoba mengajak ngobrol sok akrab. Setelah puas menggeledah, dan tidak menemukan barang berharga, termasuk uang, mereka malah kebingungan. Salah satu dari mereka bertanya, bagaimana bisa bertahan hidup dan pulang ke Jogja tanpa uang dan perbekalan? Aku pun menjawab sekenanya. Aku bilang hal itu sudah biasa aku lakukan.

Mereka malah memberi respon positif. Mungkin mereka iba dengan nasibku yang lontang lantung tanpa perbekalan, atau malah pusing melihat sikap nekatku. Ingin memberi respon positif pula, aku mencoba membuatkan mereka kopi dengan sisa-sisa perbekalan yang ada. Setelah beberapa lama ngobrol, kami pun jadi semakin akrab. Dan sungguh di luar dugaan, saat saya pamit pulang keesokan harinya, mereka memberiku uang saku Rp 20 ribu dan beberapa potong baju pantai. Mereka bilang baju itu hasil mengutil pengunjung pantai. Ingin memberi rasa hormat, aku menerima pemberian itu, meskipun dalam hati aku menolaknya.

Tahun berikutnya, saat ke Lombok, aku ketemu dua orang gila. Dua orang teman dekat, Suranto (alm) dan Daniel yang mau diajak hidup nekat. Dengan uang yang teramat minim, aku bisa keliling Lombok plus naik Gunung Rinjani. Keren, foto-foto di puncak dan liburan di Segara Anakan tiga hari tiga malam. Saat pulang, sampai di Stasiun Lempuyangan, uang kami bertiga tinggal Rp 400 perak. Aku masih ingat uang itu kami belikan nasi dua bungkus tanpa lauk dan kami makan bertiga. Untuk diketahui, karena tidak ada uang untuk beli makan di perjalanan, kami hanya makan mangga mentah pemberian seorang teman. Perut kami sempat sakit melilit karena lapar dan masam.

Begitu juga tahun 1997, aku ditemani dua teman gila yang lain, Budi dan Simeon. Kali ini, selain keliling Bali, kami juga naik Gunung Agung, Gunung Semeru di Malang, dan Gunung Merapi di Jogja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, uang yang kami bawa juga sangat minim. Untuk makan, kami hanya mengandalkan mie instan.

* * *

Ya, nekat memang sifatku. Aku berpikir, jika tidak nekat, maka tidak ada perubahan. Dengan gaji minim, jika tidak nekat utang, ya tidak bakal punya apa-apa. Pernah juga, aku bawa sepeda motor rusak dari Rembang ke Jogja. Yang harus aku tanggung, macet puluhan kali, ndorong gak kehitung lagi, bersihin busi motor juga gak kehitung. Tapi tetap saja sampai Jogja. Jika perjalanan normal tujuh jam, aku menempuhnya selama 15 jam.

Tapi, beberapa tahun kemudian, aku baru sadar bahwa sikap nekat memang sangat dibutuhkan. Terutama untuk memecahkan hal-hal mendesak. Dan setelah saya merenung, aku bisa berkeliling ke banyak kota, menjejakkan kaki ke beberapa puncak gunung, dan memenuhi beberapa keinginanku hanya dengan modal nekat.

Beberapa psikolog bahkan mengatakan, dalam sebuah kenekatan terdapat sebuah tenaga yang dahsyat. Nekat biasa muncul bila seseorang berada dalam keadaan kepepet (terjepit). Dan manusia bisa melakukan hal-hal besar di saat sedang kepepet. Jadi jangan heran bila seseorang bisa berlari lebih cepat dari sepeda motor bila sedang ketakutan melihat hantu atau dikejar tramtib. Seseorang bisa melakukan hal-hal di luar kewajaran saat ingin memenuhi rasa cintanya kepada seorang kekasihnya.

Tenaga luar biasa yang bisa keluar dari kondisi kepepet atau nekat, bagaikan gunung di dalam lautan. Yang kelihatan cuman kecil, tapi tenaganya luar biasa besar di dalam laut. Kabar baiknya, tenaga super ini bisa dipelihara dan dikeluarkan sesuai kemauan kita. Asal kita tahu caranya. Beberapa motivator dunia juga menggunakan tenaga super ini untuk mendorong tercapainya cita-cita para klien mereka.

lanjut......

Jumat, 2009 April 24

datang di saat tepat

Keajaiban itu akhirnya datang lagi menghampiriku. Kini, aku jadi semakin tambah bersemangat menapaki hari-hari di pengujung bulan ini. Terima kasih Tuhan, kau kirimi lagi aku rejeki tak terduga. Aku masih tetap yakin, dan selalu yakin, Kau pasti selalu datang di saat-saat sedang aku butuhkan.

Kisah ini terjadi Minggu,19 April, malam. Minggu itu, adalah hari pertamaku masuk kerja setelah seminggu cuti. Seperti biasa, setelah cuti, biasanya kondisi keuangan dipastikan morat-marit. Tapi beruntung, meski pas-pasan, aku tidak sempat gali lobang. Dan aku yakin, aku bisa bertahan hingga hari gajian tiba.

Sebetulnya, ada dana cukup besar. Hanya saja, uang itu masih dipakai saudara, dan aku tak tega menagihnya. Aku merasa, uang itu lebih tepat berada di tangannya karena dia lebih membutuhkannya. Aku mencoba untuk tetap ikhlas meski sebetulnya sangat membutuhkan dana segar. Rasa ikhlas selalu aku pegang teguh, karena biasanya, jika dikaitkan dengan rejeki, bisa menjadi kunci pembuka keberlimpahan.

Secara umum, cuti kali ini aku cukup puas. Aku bisa menghadirkan sedikit kebahagiaan kepada keluarga dan orang-orang yang aku sayangi. Terlebih lagi, aku bisa menengok keluarga yang sedang sakit dan meninggalkan sedikit oleh-oleh untuk mereka. Orang bilang, menengok orang sakit dan silaturahmi bias memanjangkan umur dan mendatangkan rejeki.

Kembali ke cerita hari Minggu kemarin. Tiba di kantor, aku langsung dihantam dengan segepok pekerjaan. Dengan sedikit agak canggung karena seminggu tak memegang komputer, aku agak kikuk juga bekerja. Tapi syukurlah, dengan tetap berpegang pada ikhlas, akhirnya pekerjaan itu rampung juga.

Pulang dari kantor, aku memutuskan ngojek. Istri tak bisa jemput karena si rhei sedang tidur. Biasanya, banyak ojek berseliweran di depan kantor, tapi kali itu tak ada yang lewat. Aku coba untuk jalan kaki dengan harapan di jalan ketemu tukang ojek. Dan ternyata benar, setelah berjalan kaki sekitar 200 meter ada tukang ojek menghampiri. Saat itu aku berniat beli makan dulu baru pulang. Ternyata, warung nasi langgananku tutup. Dengan agak kecewa aku pulang. Kecewa karena harus bayar ojek dua kali. Sebetulnya ongkos ojek tidak mahal, tapi berhubung sedang dalam kondisi pengiritan, hal itu cukup membuatku agak jengkel..

Pada posisi ini, aku tetap meyakinkan diri agar tetap sabar. Aku yakin, dengan bersabar, semua masalah bisa terselesaikan dengan baik. Tiba di rumah, karena kelaparan, aku mengambil mobil untuk membeli makan. Baru berjalan 300 meter, ternyata mobil mogok. Pusing juga saat itu. Aku starter berkali-kali tak mempan. Aneh juga rasanya, karena mobil itu cukup terawat mesinnya. Kecuali bodinya yang agak lecet-lecet akibat perbuatan teman-teman yang kelewat kreatif. Membuat corat-coret di mobil orang.

Untuk masalah goresan di mobil ini, aku sempat sangat kecewa. Betapa tidak, mobil ini baru saja aku cat ulang secara total. Tapi baru satu bulan dipakai sudah banyak lecet-lecet, padahal kami sangat berhati-hati memakainya. Yang lebih mengecewakan lagi, goresan itu terjadi di kantor sendiri. Tapi ya sudahlah, sifat orang memang berbeda, ada yang baik, ada yang tidak. Dua sifat berlawanan itu diciptakan Tuhan sebagai penyeimbang alam. Akhirnya, dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk selalu bersabar dan ikhlas. Tiap kali aku melihat ada goresan baru, aku selalu memaksakan diri ini untuk tetap ikhlas meski terkadang sangat berat. Kata orang, jika kita didzolimi ada dua hal, yang mendzolimi diberi hukuman setimpal atau kita diberi kelimpahan rezeki. Namun, aku selalu berharap yang kedua.

Kembali ke mobil mogok. Akhirnya mobil aku tinggal. Aku jalan kaki ke sebuah bengkel. Hasilnya nihil, karena pegawai bengkel sudah pulang. Aku pun kembali ke mobil. Mencoba beberapa kali menstater dan membuka kap, tapi tetap tak berhasil. Aku sempat kebingungan, lupa bawa hp lagi. Apesnya lagi, anjing herder milik rumah di dekat mobil mogok menyalak terus. Takut juga dikira pencuri mobil. Beberapa orang yang lewat juga melempar tatapan curiga. Dalam kondisi itu, praktis aku hanya bisa berharap keajaiban datang.

Ternyata Tuhan memang selalu datang pada saat dibutuhkan. Penghuni rumah di dekat mobil mogok keluar rumahnya dan menghampiriku. Mungkin tak tahan mendengar bunyi starter mobilku berkali-kali, atau mungkin jengkel dengan suara anjing tetangga sebelah yang menyalak-nyalak terus. Dia bilang ingin menolongku, tapi dia tidak tahu masalah mesin. Akhirnya, kami pun mendorong mobil itu ke rumahku, untuk di service besok pagi harinya. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada penolongku, namun dia tidak mau kuajak mampir.

Masuk rumah, aku ambil sepeda motor dan langsung pergi beli makan. Di warung makan, aku lihat ada orang tua meminta-minta. Penampilannya lusuh. Dengan menghiba, dia meminta sedekah. Takut uangku kurang, aku memastikan harga makan ke penjualnya. Setelah membayar makan, aku serahkan semua sisa uangku ke orang tua itu. Puas rasanya bisa menolong orang di saat aku sedang sempit. Aku lihat, orang itu tersenyum puas. Aku pun ikut senang.

Menuju rumah, iseng-iseng aku mampir ke ATM. Aku ingat betul salah satu ATM-ku masih ada isinya sekitar Rp 350 ribu. Aku berniat mengambil Rp 300-an ribu untuk jaga-jaga. Rekening ATM ini, memang aku buka secara khusus untuk bisnis online. Namun, lima bulan terakhir, aku sudah tidak aktif lagi di bisnis ini. ATM aku masukkan ke mesin, lalu aku cek saldo. Aku pun terkejut. Ternyata jumlahnya membengkak menjadi Rp 1,5 juta. Karena tak percaya, aku cek sekali lagi, tapi tetap tak berubah, isinya tetap Rp 1,5 juta. Alhamdulillah, saat itu aku pun cuma bisa terpana.

Karena penasaran, keesokan harinya aku cek email. Ternyata ada beberapa email yang isinya mengenai pembayaran komisi untukku. Sekitar tiga bulan lalu, aku juga pernah baca email soal pembayaran komisi, tapi aku tak menyangka jumlahnya mencapai Rp 1 juta lebih. Alhamdulillah. Dan kini, aku pun semakin yakin, Tuhan selalu datang pada saat yang tepat…

lanjut......

Kamis, 2009 April 02

semua pasti dikabulkan

Bila anda suka berpikir negatif, jorok, suka menjelek-jelekkan orang lain, atau berpikir tentang kejahatan, maka berhati-hatilah. Karena, bisa jadi hal itu justru akan menimpa diri anda sendiri. Jika anda melakukan hal negatif itu setiap waktu dan terus-menerus, maka hal-hal itulah yang akan melingkupi kehidupan anda sehari-hari. Jika saat bangun tidur, yang terlintas dalam pikiran anda adalah kekalutan dan keresahan, maka anda akan didera keresahan seharian.

The secret karya Rhonda Byrne yang fenomenal itu mengatakan, manusia ini merupakan bagian dari sebuah sistem mekanis alam semesta yang maha dahsyat itu. Jadi, tubuh mungil manusia yang masih suka meriang kalau kena hujan, suka melepuh karena kesenggol lilin, suka benjol karena ketimpuk batu, ternyata punya andil yang cukup dahsyat dalam proses peredaran alam semesta ini. Itu terjadi karena manusia dikaruniai pikiran yang terhubung langsung dengan sistem mekanis alam semesta.

Jadi, pikiran manusia itu ibarat sebuah pemancar gelombang radio yang terhubung langsung dengan alam semesta. Jika anda memutar gelombang radio FM, jika belum pas gelombangnya, maka akan keluar suara mendesis yang sangat mengganggu. Tapi jika gelombangnya sudah pas, sudah fokus, maka akan terdengar suara yang sangat jernih. Begitu juga dengan pikiran manusia. Bila kita berpikir tentang sesuatu secara terus-menerus dan fokus, maka alam semesta akan mengirim apa yang kita pikirkan itu secara jernih [fokus] pula.

Maka dari itu, jika anda ingin kaya raya, ingin pandai, ingin terbebas dari hutang, ingin dapat pekerjaan sesuai keinginan anda, ingin masuk surga, ingin dapat jodoh yang istimewa, ingin jadi pengusaha atau apapun keinginan anda, maka fokuslah. Pikirkanlah keinginan anda itu setiap hari, setiap waktu. Jika anda fokus, maka keinginan-keinginan dalam pikiran anda itu akan diwujudkan oleh alam semesta (baca: Tuhan).

Dalam sebuah pengajian saya pernah mencatat kata-kata seorang ustadz, Tuhan akan mengabulkan setiap permintaan umatnya (karena Tuhan Maha Pemberi, Tuhan Maha Pemurah). Tapi, Tuhan juga melihat kesiapan umatnya dalam menerima pemberiannya. Karena, bisa jadi manusia belum siap ketika dijadikan seorang milyuner, orang belum siap bila tiba-tiba diberi rejeki yang melimpah. Jika ini terjadi, akibatnya bisa menjadi tambah kacau.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu, kata ustadz itu, Tuhan akan mengabulkan setiap permintaan umatnya dalam bentuk atau jumlah yang lain (yang lebih sesuai), atau menunda waktu pengabulannya, atau menolaknya demi kebaikan umatnya itu.

The Secret menjelaskan: beruntunglah manusia, karena Tuhan (alam semesta) tidak langsung mengabulkan setiap permintaan pikiran manusia saat itu juga. Karena, bisa jadi permintaan manusia itu merupakan kejelekan bagi pihak lain, atau bisa mencelakakan diri sendiri. Maka dari itu, dengan adanya tenggang waktu terkabulnya setiap permintaan, manusia bisa merenungkan kembali setiap permintaannya. Untuk itu, selamat berpikiran positif, selamat menikmati hari-hari indah anda, dan mari hilangkan pikiran negatif yang mencelakakan.

lanjut......

Jumat, 2009 Maret 20

dukun sakit gigi

Sekadar iseng, aku pengin berbagi kisah unik. Tulisan ini sudah pernah saya tulis di blog saya yang lain, www.sandemoning.wordpress.com. Ini saya posting lagi sekadar untuk berbagi kisah, sekadar untuk memberi warna kehidupan bahwa hidup ini tak melulu harus selalu logis. Bahwa hidup ini memang indah jika kita bisa melihat dari sisi lain (tidak melulu harus logis) yang ketat dan membosankan.

Posting ini juga muncul dari rasa prihatin terhadap penilaian kebanyakan orang yang memandang bahwa para pasien Ponari adalah orang-orang yang tidak logis. Terserah itu penilaian orang. Bagi saya, setiap upaya dan ikhtiar demi kebaikan, itu sah-sah saja. Apalagi, bagi orang yang telah putus asa dengan penyakit akutnya yang tak kunjung sembuh, di sela-sela keuangan yang menghimpit, Ponari bagaikan oase di tengah padang pasir yang memberi harapan kesejukan.

Di sisi lain, apa yang mereka lakukan adalah sebuah perjalanan keyakinan. Keyakinan ini letaknya di dalam hati, sedang logika ada di otak. Jadi jika menilai keyakinan dari sisi logika, menurut saya tidak bijak, karena letaknya beda. Begitu juga menganggap pasien Ponari tidak logis, juga tidak bisa dibenarkan. Masalah ini juga banyak terjadi dalam berbagai acara ritual agama. Meski tidak logis, jutaan umatnya (termasuk umat yang berpendidikan tinggi, dan lulusan universitas luar negeri lainnya) tetap menjalankannya dengan segenap keyakinan, tanpa pernah mempertanyakannya secara logika. Kenapa? Karena letak keyakinan dan logika berbeda. Inilah ceritanya.

* * *

Beberapa waktu lalu, sakit gigiku kambuh lagi. Gigi graham kiri bagian bawah ini memang sering menyiksaku. Bentuknya kecil, tapi kalau sudah berulah, bisa membuat tubuh seberat 67 kilogram ini terguncang hebat. Gak enak makan, gak enak rokok, bahkan gak enak tidur. Pokoknya serba gak enak.

Bila hari sedang dingin karena hujan, atau udara dingin, rasa ngilu pasti menyerang. Kepala pusing adalah hal yang kerap menyerang. Bahkan, karena saking ngilunya, terkadang demam datang menghampiri. Panadol, dan obat nyeri lain sudah gak kehitung lagi jumlahnya yang masuk ke tubuh ini. Tapi, semuanya hanya bisa menghilangkan sementara saja, beberapa waktu kemudian ngilu pasti menyerang lagi.

Nah, beberapa hari lalu, seolah aku menemukan kehidupan baru. Ya, sakit gigiku sudah hilang. Musnah. Setidaknya, sepekan terakhir, rasa ngilu itu tidak pernah mampir lagi untuk menggangguku.

Awalnya hanya sekedar iseng saja. Ingin membuktikan cerita dari teman-teman kantorku yang mengatakan ada seorang tabib sakit gigi yang sakti mandraguna. halah. Pokoknya manjur deh. Sebetulnya agak ragu juga, tapi setelah saya pikir, tak ada salahnya mencoba.

Akhirnya, aku datangi juga si tabib itu. Orangnya sederhana. Dia adalah petani penyadap karet, jadi ada di rumahnya hanya sore hingga malam hari saja. Sampai rumahnya yang terbuat dari kayu beratap daun, ternyata sang empunya tak ada di rumah. Sang istri bilang kalau suaminya sedang ada di pekuburan untuk mendoakan arwah tetangganya yang meninggal. Sang istri menyarankan untuk menyusul ke pekuburan yang tak jauh dari rumahnya.

Sebelum pergi, sang istri menitipkan satu bungkusan plastik berisi beberapa ekor kecoak yang hidup di dalam tanah, bukan kecoa yang biasa mangkal di WC. Orang Jawa menyebut binatang kecil warna hitam ini sebagai cere yang biasa digunakan sebagai umpan untuk memancing.

Sampai di pekuburan, sang tabib menyambut dengan ramah. Setelah ber ba bi bu, sang tabib duduk sejenak sambil merapal doa. Tangannya memegang satu ekor cere. Sedetik kemudian, cere itu dipotong di bagian perut menggunakan tangannya, dan kemudian mengoleskannya ke pipi saya bagian luar.

Sungguh ajaib, dua detik berikutnya, dari kulit pipi saya bagian luar keluar ulat berwarna putih. Besarnya seukuran rambut dengan panjang sekitar dua sentimeter. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, 20 ekor. Wow. Konon, jumlah ulat yang keluar tergantung dari rasa ngilu yang menyerang, semakin parah sakitnya, semakin banyak ulatnya.

Dan ajaibnya lagi, begitu gerombolan penjahat, eh, ulat itu keluar dari pori-pori pipiku, rasa ngilu itu langsung menghilang. Sakit gigiku pun langsung menyerah. Angkat tangan. Setelah para gerombolan ulat itu keluar, sang tabib memberiku buntalan kertas kecil yang sebelumnya telah ditulisi huruf-huruf arab. Buntalan kertas itu disuruh memasukkan ke lubang gigiku.

Yah. Kini telah sepekan sakit gigiku hilang. Rasanya nikmat sekali minum es teh, makan makanan panas, atau makan gorengan sesuka hati, yang tentu saja tidak mungkin aku lakukan sebelumnya. Terima kasih ya pak tabib. Pengin suatu saat aku mendokumentasikan pengobatan tradisional yang ajaib ini. Untuk kenang-kenangan dan pengakuan bahwa Indonesia memang gudangnya tabib-tabib yang unik dan ampuh. Sekaligus, untuk membuktikan bahwa hidup ini tak hanya berjalan di rel logika saja. Kalau merasa bisa memecahkan metode pengobatan ini menggunakan logika, silakan dipikirkan.

lanjut......

Kamis, 2009 Maret 05

kontrak (kerja) itu pun datang

Kabar gembira itu akhirnya datang juga beberapa hari lalu. Ini adalah kabar dari adikku yang tinggal di Jakarta. Selama tiga bulan sebelumnya, kehidupannya tidak menentu, penuh dengan rasa was-was, karena tak ada kepastian hukum dia bakal direkrut menjadi karyawan sebuah perusahaan di Jakarta.

Selama tiga bulan itu, kekhawatiran terus menghantui, meski telah ada jaminan dari beberapa koordinator, termasuk pimpinan desknya bahwa dia bakal direkrut. Dia pantas khawatir karena telah menyatakan resign dari perusahaan sebelumnya, sementara di perusahaan baru, dia belum terikat kontrak resmi. Apalagi, kini telah ada satu bayi mungil dalam kehidupannya. Bayangkan saja, hidup berkeluarga di Jakarta tanpa penghasilan yang pasti. Beberapa saudara juga sudah disawer untuk sekedar memberi bantuan uang makan. Tentu saja dengan iringan doa tulus ikhlas sepenuh jiwa.

Memang, selama tiga bulan terakhir, dia telah dipekerjakan di kantor barunya itu. Koordinatornya juga telah menugasinya tiap hari. Namun, sekali lagi, dia belum terikat kontrak secara resmi dengan perusahaan ini. Pil pahit didepak secara sepihak oleh perusahaan baru itu pun bisa saja terjadi. Awal masuknya di perusahaan ini, karena ditarik oleh rekan-rekan sekantornya, yang lebih dulu pindah ke kantor baru ini. Salah satu alasan dia menerima tawaran itu karena gaji yang ditawarkan beberapa kali lipat dari sebelumnya.

Selain oleh rekannya, yang juga koordinatornya, dia juga sudah di-acc oleh pucuk pimpinan desk tempatnya bekerja. Hanya saja, karena manajemen perusahaan ini berganti, maka belum ada match antardesk. Semua rekan dan pimpinan desknya telah sepakat, termasuk besaran gaji yang bakal diterima, tapi bagian SDM belum ACC dengan alasan dia bukan rekruitmen SDM.

Negosiasi alot pun terus terjadi. Merasa tak nyaman, koordinator dan pimpinan desknya pun turun tangan. Beberapa kali, mereka meyakinkan bagian SDM bahwa adikku ini layak diperhitungkan menjadi karyawan. Beberapa kali pertemuan pun telah digelar, tapi hasilnya selalu molor. Tapi, secercah keyakinan bakal diterima tetap dipegangnya. Selain berani menunjukkan kualitas, ada jaminan dari koordinator dan pimpinan desknya bahwa dia tak mungkin didepak dari kantor baru itu.

Akhirnya, kenyataan itu pun terwujud. Kini, dia telah tanda tangan kontrak dengan gaji awal sekian juta (hampir tiga kali lipat gaji lama). alhamdulillah. Untuk ukuran Jakarta, gaji itu memang termasuk pas-pasan, tapi kepastian direkrut jadi karyawan resmi telah membuat hari-harinya menjadi tenang. Rasa was-was pun berganti dengan rasa syukur.

Bagi kami, kesenangan itu tak hanya sekedar diterimanya adik saya secara resmi. Lebih dari itu, usaha kami secara psikologis ternyata membawa hasil positif. Ya, sekali lagi the secret dan psikosibernetik yang kami jalankan untuk menggapai keinginan ini, benar-benar bisa mewujud.

Psikosibernetik itu kami awali dari sebuah keluhan. Beberapa kali, adikku mengeluh selalu kekurangan uang. Gajinya pas-pasan, dan selalu habis sebelum gaji berikutnya datang. Merasa prihatin, saya pun mengingatkan konsep psikosibernetik yang telah kami jalankan selama beberapa tahun ini. Dia pun setuju. Akhirnya, tiap hari kami berteleponan untuk mendiskusikan apa yang harus kami lakukan.

Sesuai konsep psikosibernetik dan juga the secret, suatu keinginan atau keajaiban, bisa muncul (menghampiri) jika hati selalu merasa senang dan ikhlas. Langkah awal pun kami susun. Keluhan kekurangan gaji itu kami ubah menjadi rasa syukur. Awalnya agak sulit, tapi ketika dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh dan ikhlas, akhirnya bisa juga. "Syukur masih punya gaji tetap." Itulah kalimat yang kami dengung-dengungkan. Soal selalu kurang, itu relatif. Yang penting, bagaimana kita bisa menikmati gaji yang pas-pasan itu.

Beberapa hari berikutnya, setelah kami (terutama adik saya) mengikhlaskan apa yang terjadi dalam hidup ini, (menikmati dan mensyukuri yang telah diberikan kepada kami), ternyata muncul sebuah harapan baru. Melalui obrolan yang tak disengaja, seorang "mantan" kawannya tiba-tiba mengajaknya bekerja di tempat barunya. Mantan kawan yang kini jadi koordinatornya itu, mengatakan bahwa perusahaan barunya masih perlu banyak karyawan. Kalau mau, dia bisa mengusulkan ke pimpinannya.

Dia pun iseng-iseng bertanya, berapa gaji yang ditawarkan perusahaan baru itu. Kawan itu bilang hampir tiga kali lipat dari gaji sebelumnya. Bak gayung bersambut, dia pun menyatakan setuju. Rasa syukur pun terucap. Diskusi psikosibernetik lebih kami intensifkan. Selain bersyukur, sebagai perwujudan dari rasa syukur itu (langkah nyata), adalah memberikan sedekah. Meski kondisi keuangan sedang sempit, kembang kempis, semangat bersedekah tetap digelorakan.

Langkah menambah sedekah ini kami lakukan dengan sebuah keyakinan bahwa sedekah merupakan kunci untuk membuka pintu rezeki berikutnya. Semakin banyak bersedekah, pasti rezeki juga bakal sering menghampiri.

Setelah segala persyaratan formal(itas) dipenuhi, akhirnya dia "dipekerjakan" di perusahaan baru. Dia pun menyatakan resign dari kantor lama. Meski telah bekerja di kantor baru, tapi status hukum belum didapat. Dia belum tanda tangan kontrak kerja secara resmi. Akibatnya, selama dua bulan dia hanya menerima uang transport. Rasa was-was mulai menghantui, tapi selalu berhasil kami usir dengan penuh keyakinan. Kami yakin bahwa sesuatu yang baik, pasti akan melahirkan kebaikan.

Aku pun usul agar dia membuat sebuah nadzar. Orang bilang, nadzar juga merupakan kunci duplikat pembuka pintu rezeki. Nadzar itu pun diutarakan setelah dia tanda tangan kontrak kerja. Ternyata, dia benadzar: jika telah tanda tangan kontrak, akan menyedekahkan sebagian rezekinya, yaitu menyekolahkan dua anak yang tak mampu melalui sebuah lembaga sosial.

Ya, begitulah, setelah melewati tiga bulan yang menegangkan, menyenangkan, dan penuh keikhlasan dan rasa syukur, akhirnya kontrak kerja itu pun datang. Semoga menginspirasi......

lanjut......
Google